Postingan

Menampilkan postingan dengan label Tokoh

Nyi Asiyah; Guru Ngaji Kita

Gambar
Namanya tidak asing di desa Morodemak, beliau adalah orang yang ikut andil dalam mengenalkan huruf-huruf Hijaiyah terhadap warga Morodemak wabil husus Morodemak bagian Gendero. Sosok yang ikut berperan dalam mengajarkan ayat-ayat Al qur'an.

Kyai Zabidi Ali

Gambar
Kyai Zabidi Ali saat menyerahkan bingkisan pada anak Yatim di acara Paramode ( Paguyuban Perantau Morodemak) pada Tahun 1999

Tokoh berpengaruh di Morodemak

Gambar
Morodemak memang daerah dengan karakteristik unik, dari segi dialeg maupun budaya berbeda dengan masyarakat demak pada umumnya. Perangainya juga gampang di tebak. Tidak banyak yang tahu bahasa baku morodemak berasal dari mana. Kosa katanya ada yang sulit di mengerti oleh orang demak sendiri. Bahasanya vulgar cenderung cuek khas pesisiran. Tapi di balik itu Jiwa yang membentuk karakter morodemak mempunyai pertalian yang sangat erat dengan tokoh besar di Tanah Jawa. Sebut saja kanjeng Sunan Kalijaga, Raden Fatah, Sunan Drajat atau tokoh besar lainnya.

Murtadlo Sang Penolong yang Ihlas

Gambar
Salah satu figur di luar ulama maupun cendikiawan yang menonjol di Morodemak adalah sosok Murtadlo Bin Musbandhi. Murtadlo yang tidak berkesempatan sekolah menengah ini adalah motor di balik berdirinya Bani Miyyo yang di dirikan pada tahun 1976 bersama kyai Asyari dan para sesepuh Bani Miyyo yang lain. Bani Miyyo adalah icon penting dakwah ukuwah di Morodemak karena hampir seluruh penduduk Asli Morodemak tersambung dengan keluarga besar ini, termasuk keluarga Besar Mbah sho yang mashur ini juga tersambung di generasi di bawahnya. Bani Sho berdiri juga atas inisiatifnya, tidak ketinggalan Bani H.Taslim yang lounching tahun 2010 dengan ribuan jamaah juga di motori olehnya. untuk urusan kegiatan keluarga memang di acungi jempol, tetapi ada sesuatu yang kontrakdiktif dengan sepak terjangnya. karena Murtadlo juga berjuang mati-matian manakala memperjuangkan suatu partai ataupun caleg. Dari sini muncul pertanyaan dari para Jamaah, apakah Murtadho seorang pejuang atau petualang...? terlepas...

KH. Maimun Zubair

Gambar
  KH. Maimun Zubair adalah gambaran sempurna dari pribadi yang santun dan matang. Semua itu bukanlah kebetulan, sebab sejak dini beliau hidup dalam tradisi pesantren diasuh langsung oleh ayah dan kakeknya sendiri. Beliau membuktikan bahwa ilmu tidak harus menyulap pemiliknya menjadi tinggi hati ataupun ekslusif dibanding yang lainnya. Beliau lahir pada hari Kamis, 28 Oktober 1928. Beliau adalah putra pertama dari Kyai Zubair Dahlan. Seorang Kyai yang tersohor karena kesederhanaan dan sifatnya yang merakyat, salah seorang murid pilihan dari Syaikh Sa’id Al-Yamani serta Syaikh Hasan Al-Yamani Al- Makky, dua ulama yang kesohor pada saat itu. Ibundanya adalah putri dari Kyai Ahmad bin Syu’aib, ulama kharismatik yang teguh memegang pendirian. Kematangan ilmunya tidak ada satupun yang meragukan. Sebab sedari kecil beliau sudah dibesarkan dengan ilmu-ilmu agama. Sebelum menginjak remaja, beliau diasuh langsung oleh ayahandanya untuk menghafal dan memahami ilmu Shorof, Nahwu, Fiqih, Mant...

KH. AHMAD ABRORI AKWAN

Gambar
KH. Ahmad Abrori Akwan lahir di Bindu, Peninjauan, OKU, Sumatera Selatan pada tanggal 31 Desember 1947. Beliau adalah putra kedua dari lima bersaudara dari pasangan Kiyai Ahmad Akwan bin Hasbullah dan Nyai Sayyah binti Muhammad Sholih, keduanya adalah orang-orang yang sederhana dan taat beragama, bahkan kakek beliau, menurut cerita dari saudara dan para tetangga adalah orang yang sangat jujur dan selama hidupnya.tidak pernah berbohong. Sedangkan saudara-saudara kandung beliau adalah Qurbah, kakak beliau ini meninggal saat baru berusia satu tahun, sedangkan adik-adik beliau adalah Ahmad Nabhan, Zainuddin Amrullah, meninggal saat berusia enam tahun dan Abdillah meninggal ketika masih bayi. Buya Abrori , begitulah masyarakat biasa memanggil, adalah seorang ulama yang kokoh, kuat dan tahan banting dalam menghadapi hidup dan kehidupan. Setelah lulus dari pendidikan Madrasah Ibtida’iyah Nurul Islam Bindu Baturaja (1955 – 1961), beliau tidak langsung meneruskan jenjang pendidikannya, tetapi ...

KH. Zubair Dahlan

Gambar
Kehidupan Semasa Kecil K.H. Zubair Dahlan dilahirkan pada tahun 1323H di daerah pesisir pantai, tepatnya, di Desa Karangmangu, Sarang Rembang. Suatu daerah yang merupakan perbatasan antara Jawa Tengah dan Jawa Timur. Beliau adalah putra ke-2 dari Kyai Dahlan dan Ibu Nyai Hasanah. Pada masa kecilnya, beliau tumbuh dan berkembang keilmuwannya di bawah bimbingan ayahandanya. Dalam permasalahan ta'alum (pendidikan), beliau belajar membaca Al-Qur'an dan ilmu-ilmu dasar agama Islam langsung di bawah pantauan kakek beliau, Kyai Syua'ib yang sudah masyhur dengan ke'alimannya. Sehingga pada umur yang relatif sangat muda (6 tahun), beliau sudah dapat membaca Al-Qur'an dengan baik disertai dengan tajwid-tajwidnya.

KH. Abdurrohman Wahid

Gambar
KH. Abdurrohman Wahid atau yang lebih dikenal dengan nama GusDur, dilahirkan dengan nama lengkap Abdurrahman Addakhil yang berarti Sang Penakluk, di Jombang 7 September 1940. Gus Dur ini adalah cucu KH. Hasyim Asy’ari seorang ulama pendiri Organisasi Nadhlatul Ulama. Ayahnya bernama KH. Wahid Hasyim, pernah menjabat sebagai Menteri Agama sekaligus seorang ulama yang multitalenta. GusDurnya sendiri pernah menjadi ketua umum PBNU dan menjadi orang nomor satu di Indonesia, yaitu sebagai Presiden RI pada awal reformasi, setelah lengsernya rezim Suharto dan BJ. Habibi. Jelasnya GusDur ini, dalam konteks Nusantara termasuk al-Karim ibnul Karim ibnul Karim . Bahkan Gusdur secara terbuka pernah mengatakan bahwa Ia memiliki darah Tionghoa, yaitu keturunan dari Tan Kim Han yang menikah dengan Tan A Lok , saudara Kandung Raden Fatah ( Tan Eng Hua ) Pendiri kesultanan Demak.

KH. Abdul Wahab Chasbullah

Gambar
KH. Abdul Wahab Chasbullah lahir di Tambakberas Jombang pada bulan maret tahun 1888, qiila 1883/1884. Kedua orang tuanya kebetulan berdarah biru. Ayahandanya, Kiyai Chasbullah adalah putera Kiyai Sa’id, salah satu keturunan Sunan Pandan Arang Semarang. Sedang Ibundanya, Nyai Lathifah, masih keturunan Sunan Ampel. Sejak kecil Kiyai Wahab mendapat didikan langsung dari kedua orangtuanya di pesantren Tambakberas, baru setelah berusia 13 tahun beliau mulai berkelana dari satu pesantren ke pesantren lainnya. Diantaranya adalah pesantren Mojosari Nganjuk, Brangahan Kediri di asuh oleh Kiyai Faqihuddin, Kademangan Bangkalan di asuh oleh Syaikhuna Kholil Bangkalan, Tebuireng Jombang, dan terakhir beliau memperdalam ilmu-ilmu agamanya di Mekkah kepada sejumlah ulama ternama, seperti Syaikh Mahfudz Termas, Syaikh Ahmad Khothib Minangkabau, Syaikh Abdul Hamid Kudus, Syaikh Baqir Yogyakarta, Syaikh Muhtarom Banyumas, Syaikh Asy’ari Bawean, Syaikh Sai’d Yaman, Syaikh Abdul Karim Addaghostani dan S...

Syaikh Sulaiman Ar-Rasuli Minangkabau

Gambar
Syaikh Sulaiman Ar-Rasuli atau Syaikh Sulaiman Minangkabau atau yang lebih dikenal oleh murid-muridnya dengan nama Maulana Syaikh Sulaiman, lahir di Candung, sekitar 10 km sebelah timur Bukittinggi, Sumatra Barat, pada tahun 1287 H/1871 M, wafat pada 29 Jumadil Awal 1390 H/1 Agustus 1970 M. Sebelum meneruskan pendidikannya ke Makkah Syaikh Sulaiman di didik langsung oleh orang tuanya dan Syaikh Yahya Al-Kholidi Magak Bukittinggi Sumatera Barat. Saat di Makkah beliau belajar kepada Syaikh Ahmad Khotib Abdul Latif Minangkabau, Syaikh Wan Ali Abdur Rahman Kalantan, Syaikh Muhammad Ismail Al-Fathoni, Syaikh Ahmad Muhammad Zain Al-Fathoni, Syaikh Ali Kutan Kelantan dan beberapa ulama-ulama asal melayu lainnya yang bermukim disana.

Syaikh Musthafa Husein Nasution Sumatera Utara. Sang Ulama dan Pejuang Istiqomah

Gambar
Syaikh Musthafa Husein Nasution atau Muhammad Yatim adalah anak ketiga dari sembilan bersaudara dari pasangan Husein dan Halimah. Beliau lahir di Desa Tano Bato pada tahun 1303/1886. Sebelum beliau mengembara ke Makkah dalam rangka menuntut ilmu agama, beliau dibimbing oleh Syekh Abdul Hamid Hutapungkut Julu selama kurang lebih tiga tahunan. Atas bimbingan Syaikh Abdul Hamid inilah muncul semangat pada diri Muhammad Yatim (Syekh Musthofa) untuk memperdalam ilmu agamanya di Makkah. Setelah lima tahun di Makkah beliau sempat berkeinginan untuk berpindah belajar di mesir, tetapi keinginan itu beliau gagalkan karena banyaknya orang-orang yang menasehatinya agar tetap dan istiqomah belajar di Makkah. Beliau-pun akhirnya mantap dan berkonsentrasi untuk terus belajar di Masjidil Harom di dalam bimbingan ulama-ulama terkemuka. Diantaranya adalah, Syekh Abdul Qodir al-Mandily, Syekh Ahmad Sumbawa, Syekh Sholeh Bafadlil, Syekh Ali Maliki, Syekh Umar Bajuned, Syekh Ahmad Khothib Sambas dan Syek...

Habib Muhammad Assegaf Lampung

Gambar
Habib Muhammad Assegaf, pengasuh Pondok Pesantren Darul Maarif Natar, lahir di Bandung Jawa Barat pada tanggal 27 Mei 1943 dan sekitar tahun 1955 beliau dan keluarganya pindah ke Lampung di Desa Banjar Negri Kecamatan Natar Kabupaten Lampung Selatan . Beliau adalah putra ke-tiga dari sembilan bersaudara dari pasangan Habib Abu Abdillah bin Alwi Assegaf dan Habibah Umi Kultsum. Pada masa kecil beliau dilalui sebagaimana anak-anak pada masanya, yaitu masa kemerdekaan RI yang penuh dengan gejolak politik. Habib Muh, begitulah panggilan akrab beliau, setelah lulus dari Sekolah Rakyat (SR) di kota Bandung, beliau melanjutkan sekolah setingkat SLTP dan SMA, beliau juga pernah mengenyam perguruan tinggi di Universitas Indonesia Fakultas Hukum bagian Antropologi, tetapi hanya sampai setingkat Sarjana Muda. Keinginan beliau melanjutkan kejenjang yang lebih tinggi harus kandas karena tuntutan ekonomi dimana adik-adiknya juga membutuhkan dana dalam pendidikan mereka. Saat menjadi mahasiswa inila...

Mbah Hamid Pasuruan

Gambar
Mbah Hamid lahir dikota lasem pada tahun 1914 M. dengan nama kecilnya Abdul Mu’thi, beliau adalah anak keempat dari dua belas bersaudara pasangan kiai Abdullah bin Umar dan ibu nyai Royhanah binti Shodiq. Selain termasuk dzurriyyatur Rasul (ke 35-Basyaiban), didalam dirinya juga mengalir darah biru yaitu, keturunan Sayyid Abdur Rahman/Mangkunegoro III (dalam versi lain keturunan Jaka Tingkir). Masa kecilnya tak jauh berbeda dengan lazimnya anak-anak sebayanya kecuali kebiasaannya membaca Alqur’an disaat bermain-pun. Semenjak kecil beliau belajar ilmu agama langsung dari ayahandanya sendiri. Kemudian ketika usianya 12 tahun, beliau memulai pengembaraannya dari pesantren kepesantren lainnya, diantaranya yaitu, pondok pesantren Kasingan Rembang dalam bimbingan Kiyai Kholil bin Harun (mertua Kiyai Bisri Musthofa). Setelah kurang lebih dua tahun di Kasingan, mbah Hamid pindah ke pesantren Termas Pacitan dalam bimbingan Kiyai Dimyathi.

Kiyai Ihsan Jampes

Gambar
Sosok Ulama’ sederhana dan bersahaja ini lahir dengan nama Bakri pada tahun 1901 dari pasutri KH. Dahlan dan Nyai Artimah. Sejak kecil beliau telah mendapatkan pendidikan keagamaan dari keluarganya sendiri, terutama dari neneknya (Nyai Isti’anah), baru saat beranjak remaja beliau memulai pengembaraannya dari satu pesantren kepesantren lainnya. Diantaranya, Pesantren Bendo pare yang diasuh oleh pamanya sendiri KH. Khozin, pesantren Jamsaren Solotigo, pesantren KH. Dahlan Semarang, pesantren KH. Sholeh Darat Semarang, pesantren Mangkang Semarang, pesantren Punduh Magelang, pesantren Gondanglegi Nganjuk dan pesantren Syaikh Kholil Bangkalan Madura. Kiyai Ihsan, panggilan akrab beliau, mengakhiri pengembaraannya dari menuntut ilmu di berbagai pesantren, ketika Ayahandanya memintanya membantu mengajar dipesantrennya sendiri. Untuk selanjutnya beliau istiqomah mengabdikan hidupnya didunia pendidikan dan pesantren. Pernah beliau diminta sendiri oleh raja Faruq menjadi warga kehormatan Mesir ...

KH. Zainul Arifin Barus SumUt

Gambar
Oleh: Jalil Abdi Rahman, S.Ag Beliau lahir tahun 1909 di Barus, sebuah kota kecil di pantai barat Sumatera Utara. Kota yang terkenal karena produk kapur barusnya sejak 160 Masehi. Kota ini pun semakin harum karena telah melahirkan banyak ulama-ulama besar, diantaranya Hamzah Fansuri, seorang sufi yang terkenal dengan kitab tasawufnya. Pengetahuan ke-militeran H. Zainul Arifin muda didapatkannya dari pelatihan militer pertama oleh tentara Jepang. Kemenonjolan dan ketangkasannya membuat dia diangkat sebagai Komandan Batalion Hizbullah dan kemudian diangkat menjadi Panglima Hizbullah. Anggotanya yang ribuan orang, terutama di Jawa dan Sumatera sebagian besar mangikuti pendidikan militer gaya Jepang di Cibarusah, Bekasi, Jawa Barat. Dalam kapasitas sebagai panglima Hizbullah itu, KH. Zainul Arifin kerap melakukan inspeksi pasukan, terutama di basis-basis pejuangan umat Islam yaitu pondok-pondok pesantren. Konsolidasi yang terus-menerus dengan peningkatan keterampilan bertempur, membuat Hi...

KH. Ridlwan. Pencipta Lambang NU

Gambar
Secara kebetulan, sehari sebelum Mu’tamar digelar, Kiyai Ridlwan Abdullah mendapatkan petunjuk lewat mimpi seusai melaksanakan sholat Istikhoroh. Dalam mimpi itu muncul gambar bola dunia yan dilingkupi tali dan sembilan bintang. Keesokan harinya petunjuk itupun di gambar oleh Kiyai Ridlwan di atas selembar kain dan ditambahi tulisan arab Nahdlotul Ulama sebagai hasil kreasinya. Setelah jadi, gambar tersebut disodorkan kepada para kiyai dan serentak mereka menyetujui. Maka jadilah lambang NU seperti yang kita kenal dan kita lihat sekarang ini. Sang Pencipta Lambang Nahdlotul Ulama’ yang elegan itu adalah anak sulung dari enam bersaudara dari pasangan Kiyai Abdullah dan Nyai Marfu’ah, lahir di kampung Carikan Praban Surabaya pada tanggal 01 Januari 1885 dan wafat pada tahun 1962. Dimakamkan di Tembok, Surabaya.

KH. Hasyim Asy’ari

Gambar
Kiai Hasyim, panggilan akrab KH Muhammad Hasyim Asy’ari dilahirkan dari keluarga kiai. Beliau dilahirkan pada hari Selasa, 24 Dzulqa’dah 1287 H, bertepatan dengan 14 Februari 1871 M di lingkungan pesantren Kiai Ustman, Desa Nggedang, sebelah utara Jombang, dan wafat pada 25 Juli 1947. Hasyim kecil lebih banyak mendapat pendidikan langsung dari orangtuanya, KH Asy’ari. Silsilah keturunan beliau berasal dari Raja Brawijaya VI, yang juga dikenal dengan Lembu Peteng (kakek kesembilan). Salah seorang putra Lembu Peteng bernama Jaka Tingkir, yang juga disebut Kerebet. Setelah berusia 14 tahun, Hasyim kecil mulai berkelana dari satu pesantren ke pesantren yang lain. Mula-mula menjadi santri di Pesantren Wonokoyo, Probolinggo. Kemudian pindah ke Pesantren Langitan, Tubang. Pindah lagi melanjutkan ke Pesantren Treggilis, Semarang. Pada tahun 1891 belajar di Pesantren Siwalan, Panji, Sidoarjo, yang diasuh KH Ya’qub, seorang tokoh yang dikenal berpandangan luas dan alim dalam ilmu agama.

KH. Bisri Musthofa

Gambar
KH. Bisri Musthofa lahir di desa Pasawahan, Rembang Jawa Tengah pada tahun 1915 dengan nama Masyhadi, putra pertama H. Zainal Musthofa dengan istri keduanya yang bernama Khodijah. Nama Bisri adalah nama yang ia pilih sendiri sepulang dari menunaikan ibadah haji. Setelah lulus dari sekolah jawa “Ongko Loro”, Bisri kecil mulai dengan pengembaraannya dalam rangka menuntut ilmu, berawal dari pesantren Kajen Pati, sekitar lima tahun, kemudian pulang dan mondok di pesantren Kasingan Rembang (tetangga desanya sendiri) dalam bimbingan kiyai Kholil. Kira-kira sekitar lima tahunan disana, tepat berumur duapuluh KH. Bisri Musthofa dinikahkan oleh kiyai Kholil dengan putrinya sendiri yang bernama Ma’rufah.

KH. Ahmad Asrori Utsman Al-Ishaqi

Gambar
KH. Ahmad Asrori Utsman Al-Ishaqi adalah Pengasuh Pondok Pesantren Al-Fithrah Kedinding Surabaya, sekaligus mursyid akbar Thoriqoh Qadiriyah wa Naqsyabandiyah. Wafat pada hari selasa, tanggal 26 Sya’ban 1430/18 Agustus 2009, sekitar pukul 02.20 WIB, karena sakit komplikasi yang dideritanya selama ini. Meninggalnya beliau ini membuat ribuan santri dan jamaahnya merasa sangat kehilangan sosok yang di idolakan. Tidak sedikit pula yang harus meneteskan air mata. Ribuan jamaah dari seluruh pelosok Indonesia, Malaysia, Singapura, Brunei, Hongkong dan Australia berdatangan memenuhi area masjid dan pesantren untuk melantunkan doa tahlil dan Yasinan di depan pusara makam Pimpinan Tarekat Qodiriyah Wanaqsabandiyah Al Usmaniyah.

KH. Wahid Hasyim

Gambar
KH. Wahid Hasyim lahir dari buah kasih KH. M. Hasyim Asy’ari-Nyai Nafiqah binti Kiai Ilyas (Madiun) pada pagi Jum’at legi, 5 Rabi’ul Awal 1333 H./1 Juni 1914 M. Semula ayahandanya memberinya nama Muhammad Asy’ari, diambil dari nama kakeknya. Namun, namanya kemudian diganti menjadi Abdul Wahid, diambil dari nama datuknya. Ia anak kelima dan anak laki-laki pertama dari 10 bersaudara. Sejak kecil ia sudah hobi membaca dan giat memelajari ilmu-ilmu kesustraan dan budaya Arab secara outodidak. Ia banyak menghafal syair-syair Arab yang kemudian disusun menjadi sebuah buku. Ia menikah dengan Munawaroh (lebih dikenal dengan nama Sholichah) putri KH. Bisyri Sansuri (Denanyar Jombang) pada hari Jumat, 10 Syawal 1356 H./1936 M dan dikaruniai enam orang putra-putri, yaitu Abdurrahman, Aisyah, Salahuddin, Umar, Lily Khodijah, dan Muhammad Hasyim.